Posts

CERITA TERBARU

BUS PENYELAMAT - PART 33

Image
 Part 33 Saat itu jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Suasana desa Serampeh masih tampak begitu lengang. Sepertinya hampir dari semua masyarakat yang ada di sini sedang sibuk mencari Irma yang masih belum juga ditemukan. “Lihat itu!” Meri mengarahkan mulut dan telunjuknya ke halaman rumah. Di sana terlihat sebuah motor trail yang terparkir rapi di halaman rumah. Itu adalah motor trail milik Buyung.  “Bagaiamana jika aku menggunakan motor trail tersebut untuk mempersingkat waktu?” Meri menaikkan alis matanya sembari menatap wajah Sindi. Sindi kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh temannya itu. Sedikit pun ia tak pernah terlintas untuk membajak motor Buyung untuk melarikan diri dari desa tersebut.  “Jangan khawatir, aku bisa membawanya, kok” lanjut Meri lagi untuk meyakinkan temannya. “bukan itu yang aku takutkan, akan tetapi bagaimanakah caranya aku menjelaskan semua ini pada Buyung jika kau membawa motor trailnya pergi? Semua rencana kita pasti akan terbongkar oleh mer

BUS PENYELAMAT - PART 32

Image
 Pagi sudah tiba. Sang matahari terbit dengan cahaya terindahnya di ufuk timur. Satu dua burung-burung mulai terdengar berkicau riang dari atas pepohonan, seakan tak peduli dengan kondisi Meri dan Sindi yang pada saat itu masih juga dilanda badai yang dahsyat. Sudah lebih dari setengah jam waktu berlalu, satu dua warga mulai berdatangan dan kemudian berkumpul di depan rumah Buk Tiah, termasuk juga dengan Pak Karay sang Kepala desa. Saat jalan dan halaman depan rumah Buk Tiah sudah ramai dipenuhi oleh para warga yang terus berdatangan, maka Buyung pun segera maju ke tengah-tengah mereka untuk memberikan sebuah pengumuman. Dia berdiri dan kemudian berbicara dalam bahasa setempat dengan sesekali memainkan tangannya. Meri dan Sindi hanya duduk dalam keadaan lesu melihatnya dari atas balkon rumah sambil berharap emoga teman mereka itu dalam keadaan baik-baik saja. Pak Karay menemui mereka berdua ke atas balkon, beliau menyuruh mereka berdua untuk beristirahat dan menyuruh mereka untuk tid

BUS PENYELAMAT - PART 31

Image
 “Cepat!” Seru Meri dari arah depan sembari terus berlari dengan senter hp nya yang kecil itu. Sindi pun segera menambah kecepatan larinya. Dengan tunggang langgang mereka berdua berlari melewati jalan setapak yang licin itu dalam kecepatan yang penuh. Meski beberapa kali tergelincir dan jatuh ke tanah, namun secepat itu pula mereka kembali bangun dan terus berlari sejauh-jauhnya meninggalkan rumah tersebut. Setelah terasa cukup jauh dari tempat itu, mereka pun akhirnya berhenti di tepi jalan untuk mengatur nafas. Sau dua tiga pohon manggis yang rindang berjajar di tepi jalan. “Suara apa itu? Keras sekali” Tanya Meri dengan kerongkongan yang setengah tercekik. Suara nafasnya itu terdengar memburu dan tidak teratur. Ia tampak masih begitu shock atas kejadian yang baru saja terjadi menimpa mereka. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya itu pada sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan sambil menekan pinggangnya untuk mengatur nafas. “Huhh, entahlah, aku juga tidak tahu” Sindi menggelengkan

BUS PENYELAMAT - PART 30

Image
 Lantai ruangan itu telah berlumpur, bahkan beberapa rumput liar pun juga sudah banyak yang tumbuh di dalamnya. Aroma busuk semakin menyeruak tajam. Pandangan mereka tertuju pada tumpukan daun-daun layu yang terletak di sudut ruangan. Sepertinya ada sesuatu di bawahnya, begitu simpul mereka. Semakin dekat mereka dengan tumpukan daun-daun tersebut, aroma busuk pun menjadi semakin kuat menyeruak. Itu adalah bau bangkai yang sudah dipenuhi oleh belatung, begitulah perkiraan mereka. Bahkan saat itu Meri sampai muntah-muntah karena sudah tidak tahan lagi mencium aroma busuk tersebut. Ketika Sindi menyingkirkan daun-daun layu itu dengan ujung bilah kayu yang ada ditangannya, terlihatlah bangkai seekor babi yang telah membusuk dan dipenuhi oleh kerumunan para belatung. “Buuuaak” Sindi langsung muntah seketika. Mereka berdua segera berlari meninggalkan ruangan kamar itu menuju ruangan tamu. “Kenapa bangkai babi itu bisa ada di sana? Siapakah yang telah menutupinya dengan daun-daun itu?” De